|
tyo10
|
 |
« on: March 22, 2008, 06:38:05 PM » |
|
Sabas hidup di kota Targovosta, Dasia (Rumania) pada abad keempat. Ia dikenal sebagai seorang martir karena giat sekali meneguhkan iman orang – orang Kristen Goth. Ia miskin dan tidak mempunyai kedudukan dalam masyarakat. Oleh karena berbudi luhur dan beriman teguh, ia ditabhiskan menjadi lektor untuk membantu imam – imam dalam upacara – upacara gerejani. Ia pun giat meneguhkan iman saudara – saudaranya agar tidak mengikuti praktek – praktek kekafiran kepada dewa – dewa. Kepada walikota yang merencanakan penganiayaan besar – besaran terhadap orang – orang Kristen, Sabas dengan tegas menyatakan dirinya sebagai orang Kristen yang rela mati bagi Kristus. Pada tahun 372, ketika ia menyelenggarakan perayaan Paskah di rumahnya, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh walikota. Ia ditenggelamkan di sungai dekat Buzan, Rumania. Kepada para pelaksana hukuman mati atas dirinya, ia berkata: “Lakukanlah sebaik – baiknya apa yang menjadi kewajibanmu saat ini. Aku tidak gentar sedikit pun sebab aku tahu apa yang akan kuterima dari Tuhanku sebagai pahala, yakni takhta kemuliaan surgawi bersama – Nya
|
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
yosephinediah
Newbie
Reputasi : 3
Posts: 32
|
 |
« Reply #1 on: July 29, 2008, 02:44:29 PM » |
|
Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois, Tetapi bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.
Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang engkau lakukan Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.
Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu, Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.
Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.
Apa yang engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.
Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia
Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik
Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki dan itu mungkin tidak akan pernah cukup Tetpi, tetaplah berikan yang terbaik
Sadarilah, bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur
Mother Theresa
|
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
yosephinediah
Newbie
Reputasi : 3
Posts: 32
|
 |
« Reply #2 on: October 23, 2008, 03:47:05 PM » |
|
Bila Allah hendak menggembleng seseorang, membakar semangatnya, dan menjadikan dirinya terlatih.... Bila Allah hendak membentuk seseorang untuk melakukan peran yang mulia.... Bila Allah dengan segenap hati ingin menjadikannya gagah berani, sehingga seluruh dunia heran dan kagum sekali.... Maka.... Perhatikanlah cara-Nya, perhatikanlah jalan-Nya, Bilamana ia dengan tidak segan-segan menyempurnakan orang pilihan-Nya. Bilamana Ia menempa dan melukai serta mebongkarnya habis-habisan untuk mengubahnya. Bagai penjunan membentuk tanah liat, menurut maksud yang hanya dimengerti oleh-Nya Sementara hati yang terluka itu menangis, menjerit dan tangannya terulur memohon pertolongan-Nya ! Lihatlah, bagaimana Allah menekuk.... Namun Ia tidak mematahkannya.
Bila yang baik pada seseorang hendak dikembangkan... Bagaiman Allah memakai orang pilihan-Nya, dan menyiapkannya sesuai dengan tujuan Ilahi Setiap perbuatan Allah melengkapi dirinya Agar dapat memencarkan kemulian-Nya Tuhan tahu benar apa yang diperbuat-Nya.
" Ujian terhadapmu akan menghasilkan ketekunan,dan biarlah ketekunan itu akan menghasilkan buah yang matang "
|
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
yosephinediah
Newbie
Reputasi : 3
Posts: 32
|
 |
« Reply #3 on: November 07, 2008, 03:06:27 PM » |
|
Ada adegan di mana aku takut salah. Aku takut ngabisin can (gulungan film - red) Apalagi kta pakai tiga kamera, jadi akting sambil mikirin harga can. Begitulah kesan dari Artika Sari Dewi, tentang pengalamannya berperan sebagai Siti dalam film Garin Nugroho, Opera Jawa. Kesadaran bahwa aktingnya tengah direkam dan perekamnya berharga mahal, mendorong Tika berusaha tampil secara hati-hati. Takut Salah...
Seluruh hidup kita sebenarnya juga tengah "direkam". Seperti pemain film akan mempertanggungjawabkan kinerjanya pada sutradara, produser dan penonton, kelak kita juga mempertanggungjawabkan seluruh hidup di hadapan "Sang Pencipta". "Film" yang dipakai untuk merekam hidup kita juga sangat mahal karena kita ditebus " buakan dengan barang fana, melainkan dengan darah Kristus "
Di hadapan tahta pengadilan Allah, kita harus mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan kita: sikap, motivasi, pikiran, ucapan, tindakan harus mempertanggungjawabkan baik perkara-perkara yang kelihatan maupun perkara-perkara yang tersembunyi. Semua akan dihakimi menurut tolak ukur kebenaran dan keadilan-Nya.
Seberapa jauh kesadaran iniberepengaruh pada cara kita menjalani hidup. Apakah kita tampil secara sembrono dan meremehkan darah penebusan Kristus. Ataukah kita menjalaninya dengan luapan rasa syukur karena telah ditebus dan diizinkan untuk turut mengambil bagian dalam drama kehidupan yang mulia.
Kamera siap ? Action !
" Hidup bertanggung jawab adalah ungkapan syukur dan penghormatan atas anugerah serta kemurahan Allah "
|
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
yosephinediah
Newbie
Reputasi : 3
Posts: 32
|
 |
« Reply #4 on: November 18, 2008, 01:51:47 PM » |
|
Bertahun2 yang lalu di Virginia Utara, ada seorang lelaki tua berdiri di atas tanggul sungai sedang menunggu untuk menyeberang. Karena waktu itu udara begitu dingin samapi menusuk tulang dan tidak ada jembatan, ia harus "menumpang" ke seberang sungai. Setelah begitu lama menunggu, ia melihat sekelompok penunggang kuda mendekat. Dan ia membiarkan penunggang kuda yang pertama lewat, kemudian yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Akhirnya tinggal seorang penunggang kuda yang terakhir. Sementara si penunggang kuda itu menghampirinya, si laki-laki tua melihat ke matanya dan berkata, " Pak, bisakah anda memberi saya tumpangan ke seberang sungai?"
Penunggang kuda itu tanpa keraguan sedikitpun berkata, "Wah, tentu saja, silahkan naik." Begitu sampai di seberang sungai laki-laki tua itu pun turun ke tanah. Sebelum pergi si penunggang kuda itu lalu berkata, "Pak, bagaimanapun juga saya memperhatikan anda membiarkan semua penunggang kuda lainnya lewat tanpa meminta menumpang. Setelah saya mendekat, anda seketika itu juga minta menumpang. "Saya ingin mengetahui, mengapa anda tidak meminta kepada mereka dan hanya meminta kepada saya ?"
Laki-laki tua itu dengan suara perlahan menjawab, "Saya melihat ke dalam mata mereka dan tidak melihat adanya kasih dan di dalam hati saya tahu bahwa tidak ada gunanya jika saya meminta tumpangan. Tetapi ketika saya memandang mata anda, saya melihat belas kasihan, kasih sayang dan kesediaan untuk menolong saya. Dan saya tahu anda dengan senang akan memberi saya tumpangan ke seberang sungai." Setelah itu si penunggang kuda itu dengan rendah hati berkata, " Ketahuilah saya sangat berterimakasih untuk apa yang anda katakan, saya sangat menghargainya." Dengan kata-kata itu Thomas Jefferson lalu membelokkan tunggangannya dan berkuda terus menuju Gedung Putih. Secara benar telah dikatakan bahwa "Mata Adalah Jendela Jiwa"
[/quote] [/quote] [/quote]
|
|
|
|
|
Logged
|
|
|
|
|